Fiat
Market
Perdagangan
Futures
Finansial
Promosi
Selengkapnya
Pemula
Masuk
Akademi CoinEx

Mengapa Indikator RSI Itu Penting?

2022-11-21 03:04:34

Seiring meningkatnya popularitas industri dan pasar kripto, kegiatan perdagangan (trading) kripto telah menjadi kegiatan yang digemari banyak investor karena menjanjikan keuntungan dalam waktu singkat.

Karena trading adalah kegiatan perdagangan aset kripto jangka pendek, peran analisis fundamental dan sentimen global tidak akan begitu berpengaruh, sehingga berbagai teknik meraup profit dapat diterapkan dengan lebih leluasa.

Selain itu, trading kian menarik dengan adanya fitur leverage, memungkinkan para trader untuk meraup keuntungan berlipat hanya dengan menggunakan modal yang minim. Daya ungkit menjadi sebuah daya tarik tersendiri dari kegiatan trading.

Pendahuluan

Namun, kegiatan trading tidaklah semudah yang terdengar dan dilihat, karena kegiatan ini menguras emosi psikologis pelakunya, dan tidak melulu menjanjikan sebuah keuntungan, melainkan kerugian berkepanjangan.

Untuk membantu trader, beberapa pakar telah mengembangkan alat bantu yang disebut dengan indikator, guna meringankan beban trader dalam melakukan analisa, membawa dasar matematis yang ada di grafik untuk membantu pengambilan keputusan dalam membuka dan menutup posisi trading.

Saat ini, ada banyak sekali indikator yang dapat digunakan oleh trader, tetapi ada beberapa yang telah menjadi favorit banyak trader untuk meraup keuntungan, salah satunya adalah indikator RSI.

Mari ketahui lebih lanjut lagi mengenai apa itu indikator RSI, cara kerjanya dan cara menggunakannya untuk trading, dalam ulasan CoinEx kali ini.

Apa Itu Indikator RSI?

Indikator RSI adalah singkatan dari nama “Relative Strenght Index,” yakni indikator yang mengukur momentum dari pergerakan harga dalam analisis teknikal.

Pada dasarnya, indikator ini digunakan untuk mengukur kecepatan dan besaran pada setiap pergerakan harga, termasuk kondisi overvalued dan undervalued untuk membantu trader mengambil keputusan dalam trading.

Indikator RSI diciptakan oleh seorang ahli bernama J. Welles Wilder, yang kali pertama ia kenalkan dalam bukunya berjudul “New Concepts in Technical Trading Systems,” pada tahun 1978. Indikator ini berosilasi antara level nol dan seratus (0 dan 100).

Yang menarik, indikator RSI tercipta sebelum era komputer, telah banyak digunakan oleh trader ternama dari masa ke masa, hingga saat ini karena probabilitas yang diciptakannya sangat menguntungkan.

Secara umum, untuk menyatakan kondisi overvalued, itu adalah saat indikator mencapai titik lebih tinggi dari level 70. Sedangkan, untuk kondisi undervalued, itu adalah saat indikator mencapai titik lebih rendah dari level 30.

Lalu, apa itu overvalued dan undervalued?

Overvalued atau biasa disebut dengan overbought adalah kondisi di mana harga telah dianggap berada di atas dari nilai sesungguhnya (kemahalan), atau sudah terlalu berlebihan dalam mendapatkan dorongan beli.

Sementara, undervalued atau biasa disebut dengan oversold, adalah kondisi di mana harga telah dianggap berada lebih rendah dari nilai sesungguhnya (kemurahan), atau sudah terlalu berlebihan dalam mendapatkan dorongan jual.

Trader yang melihat posisi overvalued atau undervalued di indikator RSI berharap terjadinya koreksi atau pembalikan tren.

Mengapa indikator RSI dianggap penting oleh sebagian besar trader, termasuk trader veteran, adalah karena:

- Pedagang dapat menggunakan indikator ini untuk memprediksi perilaku harga aset, termasuk kripto,

- Ini dapat membantu pedagang memvalidasi tren yang berlanjut dan pembalikan tren,

- Ini dapat menunjukkan kondisi overvalued dan undervalued,

- Ini dapat memberi sinyal beli dan jual bagi kegiatan trading jangka pendek,

- Ini adalah indikator teknis yang dapat digunakan sebagai “pihak ketiga” untuk mendukung strategi perdagangan.

Bagaimana Cara Indikator RSI Bekerja?

Karena termasuk dalam kategori indikator yang memprediksi momentum, indikator RSI bekerja dengan membandingkan setiap data teknikal secara harian, dari sisi kekuatan transaksi di kala harga naik, maupun turun.

Hasil dari perbandingan data kekuatan tersebut dapat memberi pandangan pada para trader, tentang bagaimana performa dari pergerakan harga suatu aset yang akhirnya dapat membantu trader mengambil keputusan untuk bertransaksi (trading).

Biasanya, indikator ini tidak digunakan sendiri, melainkan dikolaborasikan dengan indikator lain untuk memperkuat keputusan trading.

Menghitung RSI

Secara umum, indikator bekerja secara matematis, yang artinya semua dibangun berdasarkan perhitungan angka dan variabel.

RSI menggunakan perhitungan dua bagian, yang dimulai dengan rumus:

RSI langkah pertama = 100 – [1001+(keuntungan rata-rata dibagi kerugian rata-rata ]

Keuntungan atau kerugian rata-rata yang digunakan dalam rumus di atas adalah persentase keuntungan atau kerugian rata-rata yang terjadi dalam histori harga.

Rumus tersebut menggunakan nilai positif untuk kerugian rata-rata. Periode dengan kerugian harga dihitung sebagai nol dalam perhitungan keuntungan rata-rata.

Sementara, periode dengan kenaikan harga dihitung sebagai nol dalam perhitungan kerugian rata-rata.

Secara umum, standar periode yang digunakan dalam indikator RSI adalah 14 hari terakhir. Beberapa trader biasanya mengubah standar periode sesuai dengan bagaimana cara mereka menganalisis.

Merencanakan RSI

Indikator RSI biasanya akan ditempatkan di bawah grafik harga seperti gambar di atas, di mana lingkaran merah adalah contoh dari overvalued dan lingkaran hijau adalah contoh dari undervalued.

Memang, biasanya harga tidak selalu sesederhana pergerakan harga di atas, turun begitu mencapai overvalued dan naik ketika mencapai undervalued.

Ada beberapa kondisi yang perlu dipahami dalam mengamati pergerakan indikator RSI, yang akan terbentuk seiring pengalaman dan jam terbang dari trader.

Bagaimana Cara Menggunakannya?

Untuk menggunakan indikator RSI dalam trading, kita perlu menyesuaikan beberapa hal, tidak sekadar jual ketika masuk overvalued dan beli ketika masuk undervalued.

Menyesuaikan Tren

Salah satu cara menggunakan RSI adalah menyesuaikan dengan tren yang sedang terjadi di time frame yang digunakan.

Misalkan, pada saat harga Bitcoin (BTC) sedang dalam tren bearish di time frame 4 jam, maka prioritaskan transaksi untuk mengambil posisi jual, menganut konsep follow the trend.

Itu artinya, penggunaan RSI hanya untuk di titik overvalued, atau peluang untuk melakukan aksi jual karena tren sedang turun.

Disarankan untuk tidak masuk mengambil posisi beli di titik undervalued ketika tren terkonfirmasi masih bearish kuat karena ada kemungkinan itu akan menjadi sinyal beli palsu.

Divergensi

Divergensi RSI terjadi ketika harga bergerak berlawanan arah dengan indikator yang ditunjukkan.

Itu artinya, grafik mungkin menampilkan perubahan momentum sebelum perubahan harga yang sesuai terjadi.

Divergensi bullish terjadi ketika RSI menampilkan pembacaan undervalued, diikuti oleh higher low yang muncul di RSI dengan lower low pada harga aset.

Sementara, divergensi bearish terjadi ketika RSI menciptakan pembacaan overvalued, diikuti oleh lower high yang muncul di RSI dengan higher high pada harga aset.

Gambar di atas adalah contoh dari divergensi bullish, di mana harga membentuk lower low (garis merah) dan indikator RSI membentuk higher Low (garis hijau) di wilayah undervalued atau oversold.

Dengan cepat, harga yang awalnya berada dalam downtrend (karena membentuk lower low), berbalik menjadi dorongan beli yang cukup menguntungkan untuk transaksi jangka pendek, alias trading.

Meski tampak sederhana, melakukan ini tetap membutuhkan praktek berkali-kali agar mendapatkan feel dalam memetakan setiap bentuk divergensi dan pola teknikal lainnya.

Penutup

Kehadiran alat bantu dalam trading, seperti indikator RSI, adalah sebuah kemudahan bagi para investor dan trader ritel untuk menggeluti kegiatan trading guna meraih keuntungan jangka pendek, ini dapat mengesampingkan apakah pasar saat ini sedang bearish atau bullish dalam jangka menengah. Keuntungan masih dapat diraih selain hanya dengan berinvestasi.

Sebelumnya
Turnamen Sepak Bola Empat Tahunan Dimulai: Tinjauan Singkat Token Penggemar
Selanjutnya
Apa Itu Web 3.0?